RSS

Kamis, 05 Desember 2013

Kunci Kecantikan

Saat ditanya mengenai perawatan kecantikan yang ia lakukan, mantan VJ tersebut mengatakan dirinya tidak muluk-muluk dalam merawat diri.

"Seperti banyak wanita lain saya rutin spa, lulur, totok wajah, creambath dan maskeran," ucap dara kelahiran Bandung saat ditemui di sebuah mal di kawasan Senayan, Jakarta.

Pakai bahan alami
Wanita yang berbisnis salon kecantikan sejak dua tahun lalu itu mengaku terinspirasi dari tradisi masyarakat Jawa dalam merawat kecantikan tubuh. Ia banyak memakai rempah, tumbuhan herbal dan buah-buahan dalam ritual merawat tubuhnya serta rajin mengonsumsi kencur dan kunyit asam.

Tak hanya itu, ia juga membatasi perawatan kecantikan hanya dengan bahan-bahan alami.

"Saya selalu menghindari perawatan yang memakai bahan kimia. Saya juga belum kepikiran untuk melakukan prosedur merubah bentuk wajah seperti operasi plastik. Pokoknya yang alami aja," ucap bintang film Ayat-Ayat Cinta itu sambil tersenyum.

Hindari stres

Menurut wanita bernama lengkap Rianti Rhiannon Cartwright ni, salah satu rahasia menjaga kecantikan adalah menghindari stres. Ia mengatakan stres akan mempengaruhi penampilan wajah dan kulit.
Konsumsi buah dan air mineral

Tips lainnya yakni mengonsumsi buah-buahan, air mineral dan menghindari kebiasaan buruk seperti merokok, minum minuman beralkohol serta mengkonsumsi makanan cepat saji. Hal tersebut baginya sangat bermanfaat untuk menjaga kecantikan dari dalam.
Tidur cukup

Terakhir dan tak kalah penting adalah tidur cukup dan rutin berolahraga. Rianti menyarankan untuk mencari jenis olahraga yang disukai.
"Kalau saya suka yoga walaupun masih pemula," ucap wanita lulusan University of Tasmania, Australia, ini.

Kamis, 07 November 2013

Cinta Lelaki Biasa


   
Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak- kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya. “Kenapa?” tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.
   Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu. Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yang barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka.
   Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata! Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka. “Kamu pasti bercanda!” Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.
   Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania! “Nania serius!” tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya. “Tidak ada yang lucu,” suara Papa tegas, “Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!” Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.
“Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan?” Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, “maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?” Nania terkesima. “Kenapa?” Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik. Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus! Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!
Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata ‘kenapa’ yang barusan Nania lontarkan. “Nania Cuma mau Rafli,” sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak. Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat… Parah.”Tapi kenapa?” Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa. Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya. “Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!” Cukup! Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?
   Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak ‘luar biasa’. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia. Mereka akhirnya menikah. ***
Setahun pernikahan.
Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka. Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.
“Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.”Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan. Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya. “Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!” “Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar!” “Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!” Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.
Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen. Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak! Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan? Rafli juga pintar, Tidak sepintarmu, Nania. Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan. Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.
Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma. “Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.”Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.
Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang.
“Tak apa,” kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. “Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.” Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik. “Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?”
Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah. Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia! Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania.
Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting. Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak! Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang- orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.
Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik. Cantik ya? dan kaya! Tak imbang! Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari. Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis. ***
Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya. “Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!” Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil. Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.
Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali. “Baru pembukaan satu.” “Belum ada perubahan, Bu.” “Sudah bertambah sedikit,” kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan. “Sekarang pembukaan satu lebih sedikit.” Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.
Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset. “Masih pembukaan dua, Pak!” Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya. “Bang?” Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.
“Dokter?” “Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.”Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat? Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal. Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.
Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir. Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat. “Pendarahan hebat.”Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.
Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka. Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker. Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.***
Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah boleh membawanya pulang. Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.
Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan. Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU.
Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra. Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya. “Nania, bangun, Cinta?” Kata-kata itu dibisikkannya berulang- ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.
Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik, “Nania, bangun, Cinta?”
Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli. Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan. Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.
Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya. Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh. Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi. Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.
Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh? Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli. Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan direstoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun. Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih- lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.
Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik. “Baik banget suaminya!” “Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!” “Nania beruntung!” “Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.”
“Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!” Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama. Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa? Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?
Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan. Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya. Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Rabu, 30 Oktober 2013

Ribetnyaaa Revisi PKM Kewirausahaan

Ternyata susah buat PKM Kewirausahaan itu.. harus ulet dan sabar. Berkali-kali ngajuin, berkali-kali juga direvisi. Yang lebih susah lagi itu minta tanda tangan + Stempel.. haduuhhh.. serasa hidup ini hanya demi proposal.
Apalagi jadwal pengumpulan proposal PKM Kewirausahaan tabrakan dengan UTS.. asli stress berat.
Dibela-belain nginep di kampus pulaa.. huuh.. Demi PKM Kewirausahaan.

Besok paginya masih harus bikin copyan proposal pula . Hmm.. it's ok no problem . Yang paling penting adalah pengalamnnya. Saya hanya berharap PKM Kewirausahaan " B&B Kulit Jagung" bisa lolos. Aamiin :)

File selesai diunggah dan menunggu pengumuman lolos atau tidaknya. Lumayan lama menunggu, dan Alhamdulillah kelompok saya belum lolos :(
Semua tidak sesuai dengan harapan. Tak apalah, saya tetap senang dan bangga karena teman saya masih ada yang lolos dengan tema "Pentol Berbusa (Berbuah & Bersayur) ". Congratulation kawann :*

Selasa, 29 Oktober 2013

Ngesot Gara – gara Pengobatan Alternatif Gadungan



Saat ini banyak sekali berbagai pengobatan alternatif yang ditawarkan. Mulai dari pengobatan tradisional asli Indonesia seperti jamu, pijat, gurah, dna lain – lain, sampai ke pengobatan alternatif dari luar seperti akupuntur, terapi batu giok, pijat refleksi, dan masih banyak lagi. Dari yang memang sudah dikenal betul pengobatan dan khasiatnya sampai yang muncul baru – baru. Ada yang ragu – ragu untuk memanfaatkannya dan ada juga yang sangat fanatik berat bahkan yakin bahwa itu adalah pengobatan paling jitu !
Nah, kisah ini diambil dari pengalaman saudaraku, Roni (nama disamarkan). Cerintanya, Roni diajak temannya untuk melakukan pengobatan alternatif sendiri. Katanya sih, cara pengobatan ini bisa mengobati berbagai macam penyakit dan juga membuat badan lebih bugar. Sedangkan cara kerjanya adalah bahan – bahan dalam pengobatan tersebut mempunyai efek untuk memperlancar peredaran darah sehingga fungsi – fungsi tubuh bekerja dengan normal. Dan tubuh pun bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Hmm... masuk akal juga sih !
Pagi – pagi Roni sudah menyiapkan bahan –bahannya. Dia bikin berplastik –plastik es batu sebagai salah satu bahannya., sednagkan bahan – bahan yang lainnya adalah minyak tanah dan garam dapur. Ck, ck, ck ... aneh – aneh saja!
Kata Roni, karena bahan – bahannya mudah, dan menurut kabar khasiatnya sudah terbukti, maka Roni dan teman – temannya ingin sekali mempraktikannya. Pokoknya prinsipnya mudah, murah, dan berkah! Terserah deh..
Siang harinya teman – teman Roni pun datang. Semuanya ada 4 orang termasuk Roni. Roni pun mempersiapkan 4 ember. Semua ember diisi es batu, miyak tanah, dan garam. Lalu, mereka duduk di kursi dan kedua kakinya dimasukkan ke ember yang sudah terisi bahan – bahan tadi.
Menit – menit pertama sih masih terdengar mereka mengobrol sambil tertawa – tawa. Tapi, 5 menit kemudian, kok jadi sepi yah ? terlihat wajah – wajah mengernyit mulai tampak di muka mereka. Akhirnya, pada menit ke-10 mereka memutuskan untuk mengeluarkan kaki mereka dari ember, tapi msih tetap duduk di kursi.
“terasa tebal ya kakinya?” Kata Roni.
“Ya iyalah. Namanya juga kena es,” ujar temannya.

HAIR COLOUR...? RAMBUT MOLOR!


Selesai UTS, aku dan Ulva sahabat kentalku jalan – jalan ke mall dengan alasan ngilangin stres *norak banget, UTS aja pakai stres segala*. Sampai sana ada promo dan discount besar buat pewarna rambut yang dipakai Tukul. Mi***da Hair Colour!
Ide konyol terlintas :
“Va, aku kok jadi pengen ngewarnain rambutku yaa ?” aku berucap.
“Hayoo.. aku juga,” Ulva malah semangat empat lima.
Mbak PSG mendatangi kami denngan rambut yang juga berwarna indah.
“Bisa dibantu?” tanyanya ramah.
Kami memilih warna sampel, tapi sayangnya semua sudah habis terjual. Yang tersisa tinggal merah *serupa bendera kita* dan biru. Maklum, banting harga sampai tiga ribu rupiah.
“Ya udah, kita beli ini ini aja,” kataku.
“Boleh deh, aku juga pingin warna biru. Beda banget kayaknya,” Ulva setuju.
“Kalau hasilnya jelek?” tanyaku. Dia mulai ragu.
“Halaaaah ... bodo amatlah! Siapa juga yang ngeliat rambut kita?” aku meralat keraguanku. Wajahnya kembali cerah.
Teringat kasusnya yang pernah mewarnai rambut tapi hasilnya tak terlihat, Ulva bertanya pada mbak-mbak yang melayani kami. Dan, jawaban mbak itu, “Memang kalau hasilnya mau bagus seperti contoh, harus pakai bleaching dulu. Kami juga menyediakan kok,” kata si mbak semakin antusias berdagang. Yaiyalah ... sales promotion girl, ya emang kudu promosi!
Dan, kami dua jilbaber culun yang kerasukan jin genit, langsung membeli bleaching buat dipakai sebelum menggunakan hair colour.
Sampai di rumah, kamarku berubah jadi salon dadakan. Baskom, sisir, handuk, dan ... sikat gigi bekas. Hiiiy ... buat apaan ? buat meratakan bleaching dan pewarnanya dong ! Kan sok profesional. Hihihi...
Saat pemakaian bleaching, kami santai mengoleskan dari akar rambut ke bawah *belakangan kami baru tahu kalau cara ini terbaik*. Bau pemutih menyengat bikin napas rada sesak dan mata perih.
Beberapa menit kemudian, kulit kepala juga tersa panas dan perih seperti luka. Segera kami bilas dan hasilnya ...
Ya Allah, rambut kami kok molor? Benar – benar molor alias memanjang seperti karet dan rapuh banget. Tahu rambut jagung kan? Yup, sewarna dan serupa itu!
Saat bercermin, aku seperti melihat diriku di masa depan. Nenek – nenek beruban!
Kepalang tanggung, dengan deg – degan kami melanjutkan petualangan tahap kedua. Pakai semir. Hasilnya?
Jujur, aku dan Ulva takut melihat cermin. Tapi, cukup bisa tertawa melihat tampang temannya. Okay, tidak perlu dijelaskan satu per satu. Kmai berdua seperti ... Power Rangers. Ada yang biru dan ada yang merah.
Mau menghibur diri model apa pun juga, tetap saja kami tak bisa berbohong. Aneh!
Tidak cukup dengan tampang yang berubah total dan ‘nggak banget’, rambut kami juga rontok dan molor. Hiks ... hiks..
Terpaksa harus ke salon minta P3K (Pertolongan Pertama Pada Ketololan). Dan, jawaban dari mereka, “Nggak mungkin disemir ulang, makin bahaya. Lebih baik dipotong pendek aja, setelah itu dirawat. Tapi, perawatannya juga nggak instan.”
Okay,, eksperimen yang per orangnya hanya menghabiskan sekitar sepuluh ribu, malah harus menelan biaya banyak buat kembali ke asal.
Setelah potong lumayan pendek, aku tidak berani terlalu pendek karena aturan orang tua jelas: cewek tidak boleh berambut diatas bahu, hasilnya? Lumayanlah, rambut bercabangnya hilang. Kendala tinggal pada warna yang tak merata. Atas merah banget, bawah gradasi bitam efek dari bleaching kebanyakan di atas.
“Cantik, kok!” Aku yakin kalimat pegawai salon sekedar menghibur.
Padahal aku berasa mirip titisan setan ‘naudzubillah’. Besoknya, saat aku terpaksa membangunkan saudaraku buat shalat subuh, aku mempersiapkan mental buat dicela.
Di luar kebiasaan, mata yang terbuka, sedikit mendadak terbelalak. Dilanjutkan teriakan, “Astagfirullahc...!”
“Udah! Nggak usah komentar!” aku jutek. Kakakku ngakak.
“Jelek banget ya?” Yeee, justru aku yang penasaran sama penilaian dia.
Masih dengan tawa, santai dia bilang, “Nggak kok, Keren...!”
Dan, baru aku mau tersenyum sumringah, dia melanjutkan, “Kayak ayam jago!”
Senyumku hilang, mataku berkaca, Kapok! Teringat hadis Rasul kita, “Jika sesuatu diserahkan bukan pada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya!”
TAMAT

Senin, 21 Oktober 2013

Diet Is So Simple...

    
Ingin memiliki tubuh ideal, langsing, dan cantik ? Cepat dan instan ? Cuma dalam tiga hari berat badan Ukhti akan turun 10 kg, bla, bla, bla ...
    Akan yang sangat menarik bagi kaum hawa untuk mencoba produk yang ditawarkan, apalagi jika harganya murah plus diskon. Tapi, yakinlah Ukhti bahwa produk yang diiklankan tersebut bisa menjamin berat badan turun tanpa efek samping ?
   Sungguh sangat disayangkan, banyak perempuan ingin tampil cantik dan langsing, tapi dengan menempuh cara instan. Padahal, cara instan tak selamanya baik bagi kesehatan. Bahan yang terkandung di dalam obat penurun berat badan dapat menyebabkan tubuh kekurangan air atau mengalami dehidrasi, pusing – pusing, serta mual – mual jika di dalamnya terdapat bahan pencahar yang dapat menyebabkan diare bahkan kematian.
    Lantas, apakah mengurangi berat badan dengan cara back to nature merupakan solusi tepat ?
Sepanjang menggunakan bahan – bahan alamiah dalam porsi yang tepat, dengan didampingi olahraga tertaur dan mengatur pola makan yang baik dan benar, maka semua itu lebih mujarab dibandingkan mengonsumsi obat – obatan secara instan. Dan, salah satu cara alami yang dapat ditempuh adalah dengan menggunakan minyak zaitun.
    Minyak yang sangat terkenal dengan khasiatnya ini telah diakui di berbagai belahan dunia karena selain bermanfaat untuk kecantikan, juga baik untuk kesehatan karena mengandung kolestrol baik, kandungan omega 9 (79%), asam palmitrat atau asam lemak jenuh (11%), asam linoleat atau omega 6 (7%), asam stearat (2%), dan lain – lain sebesar 1%.
Untuk tujuan menjaga dan mengurangi berat badan, minimal kita harus mengonsumsi tiga sendok teh minyak zaitun per hari, ditambah dengan buah – buahan segar dan sayuran yang kaya serat, maka berat badan akan terkontrol karena minyak zaitun murni cepat membuat perut terasa kenyang, membantu menahan lapar, mengerem nafsu makan dengan asupan kalori jauh lebih rendah dibanding minyak lainnya.
Jadi bagi Ukhti yang memutuskan untuk berdiet, ada beberapa tips yang bisa Ukhti pertimbangkan :
  1. Lihatlah tubuh Ukhti. Cara mengukur apakah BB Ukhti sudah tidak normal lagi salah satunya dengan mengukur Body Mass Index (BMI) = Berat Badan : Tinggi Badan ?
  2. Perjelas tujuan berdiet. Bukan untuk tujuan ingin menjadi cantik apalagi mengharapkan pengakuan yang sifatnya semu, tapi untuk mencapai keseimbangan dan kesehatan tubuh.
  3. Pelajari berbagai cara diet yang aman untuk tubuh. Penurunan BB yang aman adalah maksimal 0,5-1 kg/minggu. Namun, jika tubuh merasa lemas, sakit, atau fungsi tubuh berkurang, maka hentikan diet.
  4. Rajinlah mendengarkan tubuh berbicara dengan sinyal yang diberikannya. (Tia Marty & Risa Mutia)