Saat
ini banyak sekali berbagai pengobatan alternatif yang ditawarkan. Mulai dari
pengobatan tradisional asli Indonesia seperti jamu, pijat, gurah, dna lain –
lain, sampai ke pengobatan alternatif dari luar seperti akupuntur, terapi batu
giok, pijat refleksi, dan masih banyak lagi. Dari yang memang sudah dikenal
betul pengobatan dan khasiatnya sampai yang muncul baru – baru. Ada yang ragu –
ragu untuk memanfaatkannya dan ada juga yang sangat fanatik berat bahkan yakin
bahwa itu adalah pengobatan paling jitu !
Nah,
kisah ini diambil dari pengalaman saudaraku, Roni (nama disamarkan).
Cerintanya, Roni diajak temannya untuk melakukan pengobatan alternatif sendiri.
Katanya sih, cara pengobatan ini bisa mengobati berbagai macam penyakit dan
juga membuat badan lebih bugar. Sedangkan cara kerjanya adalah bahan – bahan
dalam pengobatan tersebut mempunyai efek untuk memperlancar peredaran darah
sehingga fungsi – fungsi tubuh bekerja dengan normal. Dan tubuh pun bisa
menyembuhkan dirinya sendiri. Hmm... masuk akal juga sih !
Pagi
– pagi Roni sudah menyiapkan bahan –bahannya. Dia bikin berplastik –plastik es
batu sebagai salah satu bahannya., sednagkan bahan – bahan yang lainnya adalah
minyak tanah dan garam dapur. Ck, ck, ck ... aneh – aneh saja!
Kata
Roni, karena bahan – bahannya mudah, dan menurut kabar khasiatnya sudah
terbukti, maka Roni dan teman – temannya ingin sekali mempraktikannya. Pokoknya
prinsipnya mudah, murah, dan berkah! Terserah deh..
Siang
harinya teman – teman Roni pun datang. Semuanya ada 4 orang termasuk Roni. Roni
pun mempersiapkan 4 ember. Semua ember diisi es batu, miyak tanah, dan garam.
Lalu, mereka duduk di kursi dan kedua kakinya dimasukkan ke ember yang sudah
terisi bahan – bahan tadi.
Menit
– menit pertama sih masih terdengar mereka mengobrol sambil tertawa – tawa.
Tapi, 5 menit kemudian, kok jadi sepi yah ? terlihat wajah – wajah mengernyit
mulai tampak di muka mereka. Akhirnya, pada menit ke-10 mereka memutuskan untuk
mengeluarkan kaki mereka dari ember, tapi msih tetap duduk di kursi.
“terasa
tebal ya kakinya?” Kata Roni.
“Ya
iyalah. Namanya juga kena es,” ujar temannya.




0 komentar:
Posting Komentar