Selesai UTS, aku dan Ulva
sahabat kentalku jalan – jalan ke mall dengan alasan ngilangin stres *norak
banget, UTS aja pakai stres segala*. Sampai sana ada promo dan discount besar
buat pewarna rambut yang dipakai Tukul. Mi***da Hair Colour!
Ide konyol terlintas :
“Va, aku kok jadi pengen
ngewarnain rambutku yaa ?” aku berucap.
“Hayoo.. aku juga,” Ulva
malah semangat empat lima.
Mbak PSG mendatangi kami
denngan rambut yang juga berwarna indah.
“Bisa dibantu?” tanyanya
ramah.
Kami memilih warna sampel,
tapi sayangnya semua sudah habis terjual. Yang tersisa tinggal merah *serupa
bendera kita* dan biru. Maklum, banting harga sampai tiga ribu rupiah.
“Ya udah, kita beli ini
ini aja,” kataku.
“Boleh deh, aku juga
pingin warna biru. Beda banget kayaknya,” Ulva setuju.
“Kalau hasilnya jelek?”
tanyaku. Dia mulai ragu.
“Halaaaah ... bodo
amatlah! Siapa juga yang ngeliat rambut kita?” aku meralat keraguanku. Wajahnya
kembali cerah.
Teringat kasusnya yang pernah
mewarnai rambut tapi hasilnya tak terlihat, Ulva bertanya pada mbak-mbak yang
melayani kami. Dan, jawaban mbak itu, “Memang kalau hasilnya mau bagus seperti
contoh, harus pakai bleaching dulu. Kami juga menyediakan kok,” kata si mbak
semakin antusias berdagang. Yaiyalah ... sales promotion girl, ya emang kudu
promosi!
Dan, kami dua jilbaber
culun yang kerasukan jin genit, langsung membeli bleaching buat dipakai sebelum
menggunakan hair colour.
Sampai di rumah, kamarku
berubah jadi salon dadakan. Baskom, sisir, handuk, dan ... sikat gigi bekas.
Hiiiy ... buat apaan ? buat meratakan bleaching dan pewarnanya dong ! Kan sok
profesional. Hihihi...
Saat pemakaian bleaching,
kami santai mengoleskan dari akar rambut ke bawah *belakangan kami baru tahu
kalau cara ini terbaik*. Bau pemutih menyengat bikin napas rada sesak dan mata
perih.
Beberapa menit kemudian,
kulit kepala juga tersa panas dan perih seperti luka. Segera kami bilas dan
hasilnya ...
Ya Allah, rambut kami kok
molor? Benar – benar molor alias memanjang seperti karet dan rapuh banget. Tahu
rambut jagung kan? Yup, sewarna dan serupa itu!
Saat bercermin, aku
seperti melihat diriku di masa depan. Nenek – nenek beruban!
Kepalang tanggung, dengan
deg – degan kami melanjutkan petualangan tahap kedua. Pakai semir. Hasilnya?
Jujur, aku dan Ulva takut
melihat cermin. Tapi, cukup bisa tertawa melihat tampang temannya. Okay, tidak
perlu dijelaskan satu per satu. Kmai berdua seperti ... Power Rangers. Ada yang
biru dan ada yang merah.
Mau menghibur diri model
apa pun juga, tetap saja kami tak bisa berbohong. Aneh!
Tidak cukup dengan tampang
yang berubah total dan ‘nggak banget’, rambut kami juga rontok dan molor. Hiks
... hiks..
Terpaksa harus ke salon
minta P3K (Pertolongan Pertama Pada Ketololan). Dan, jawaban dari mereka,
“Nggak mungkin disemir ulang, makin bahaya. Lebih baik dipotong pendek aja,
setelah itu dirawat. Tapi, perawatannya juga nggak instan.”
Okay,, eksperimen yang per
orangnya hanya menghabiskan sekitar sepuluh ribu, malah harus menelan biaya
banyak buat kembali ke asal.
Setelah potong lumayan
pendek, aku tidak berani terlalu pendek karena aturan orang tua jelas: cewek
tidak boleh berambut diatas bahu, hasilnya? Lumayanlah, rambut bercabangnya
hilang. Kendala tinggal pada warna yang tak merata. Atas merah banget, bawah
gradasi bitam efek dari bleaching kebanyakan di atas.
“Cantik, kok!” Aku yakin
kalimat pegawai salon sekedar menghibur.
Padahal aku berasa mirip
titisan setan ‘naudzubillah’. Besoknya, saat aku terpaksa membangunkan
saudaraku buat shalat subuh, aku mempersiapkan mental buat dicela.
Di luar kebiasaan, mata
yang terbuka, sedikit mendadak terbelalak. Dilanjutkan teriakan,
“Astagfirullahc...!”
“Udah! Nggak usah
komentar!” aku jutek. Kakakku ngakak.
“Jelek banget ya?” Yeee,
justru aku yang penasaran sama penilaian dia.
Masih dengan tawa, santai
dia bilang, “Nggak kok, Keren...!”
Dan, baru aku mau
tersenyum sumringah, dia melanjutkan, “Kayak ayam jago!”
Senyumku hilang, mataku
berkaca, Kapok! Teringat hadis Rasul kita, “Jika sesuatu diserahkan bukan pada
ahlinya, maka tunggulah kehancurannya!”
TAMAT




0 komentar:
Posting Komentar