RSS

Selasa, 29 Oktober 2013

HAIR COLOUR...? RAMBUT MOLOR!


Selesai UTS, aku dan Ulva sahabat kentalku jalan – jalan ke mall dengan alasan ngilangin stres *norak banget, UTS aja pakai stres segala*. Sampai sana ada promo dan discount besar buat pewarna rambut yang dipakai Tukul. Mi***da Hair Colour!
Ide konyol terlintas :
“Va, aku kok jadi pengen ngewarnain rambutku yaa ?” aku berucap.
“Hayoo.. aku juga,” Ulva malah semangat empat lima.
Mbak PSG mendatangi kami denngan rambut yang juga berwarna indah.
“Bisa dibantu?” tanyanya ramah.
Kami memilih warna sampel, tapi sayangnya semua sudah habis terjual. Yang tersisa tinggal merah *serupa bendera kita* dan biru. Maklum, banting harga sampai tiga ribu rupiah.
“Ya udah, kita beli ini ini aja,” kataku.
“Boleh deh, aku juga pingin warna biru. Beda banget kayaknya,” Ulva setuju.
“Kalau hasilnya jelek?” tanyaku. Dia mulai ragu.
“Halaaaah ... bodo amatlah! Siapa juga yang ngeliat rambut kita?” aku meralat keraguanku. Wajahnya kembali cerah.
Teringat kasusnya yang pernah mewarnai rambut tapi hasilnya tak terlihat, Ulva bertanya pada mbak-mbak yang melayani kami. Dan, jawaban mbak itu, “Memang kalau hasilnya mau bagus seperti contoh, harus pakai bleaching dulu. Kami juga menyediakan kok,” kata si mbak semakin antusias berdagang. Yaiyalah ... sales promotion girl, ya emang kudu promosi!
Dan, kami dua jilbaber culun yang kerasukan jin genit, langsung membeli bleaching buat dipakai sebelum menggunakan hair colour.
Sampai di rumah, kamarku berubah jadi salon dadakan. Baskom, sisir, handuk, dan ... sikat gigi bekas. Hiiiy ... buat apaan ? buat meratakan bleaching dan pewarnanya dong ! Kan sok profesional. Hihihi...
Saat pemakaian bleaching, kami santai mengoleskan dari akar rambut ke bawah *belakangan kami baru tahu kalau cara ini terbaik*. Bau pemutih menyengat bikin napas rada sesak dan mata perih.
Beberapa menit kemudian, kulit kepala juga tersa panas dan perih seperti luka. Segera kami bilas dan hasilnya ...
Ya Allah, rambut kami kok molor? Benar – benar molor alias memanjang seperti karet dan rapuh banget. Tahu rambut jagung kan? Yup, sewarna dan serupa itu!
Saat bercermin, aku seperti melihat diriku di masa depan. Nenek – nenek beruban!
Kepalang tanggung, dengan deg – degan kami melanjutkan petualangan tahap kedua. Pakai semir. Hasilnya?
Jujur, aku dan Ulva takut melihat cermin. Tapi, cukup bisa tertawa melihat tampang temannya. Okay, tidak perlu dijelaskan satu per satu. Kmai berdua seperti ... Power Rangers. Ada yang biru dan ada yang merah.
Mau menghibur diri model apa pun juga, tetap saja kami tak bisa berbohong. Aneh!
Tidak cukup dengan tampang yang berubah total dan ‘nggak banget’, rambut kami juga rontok dan molor. Hiks ... hiks..
Terpaksa harus ke salon minta P3K (Pertolongan Pertama Pada Ketololan). Dan, jawaban dari mereka, “Nggak mungkin disemir ulang, makin bahaya. Lebih baik dipotong pendek aja, setelah itu dirawat. Tapi, perawatannya juga nggak instan.”
Okay,, eksperimen yang per orangnya hanya menghabiskan sekitar sepuluh ribu, malah harus menelan biaya banyak buat kembali ke asal.
Setelah potong lumayan pendek, aku tidak berani terlalu pendek karena aturan orang tua jelas: cewek tidak boleh berambut diatas bahu, hasilnya? Lumayanlah, rambut bercabangnya hilang. Kendala tinggal pada warna yang tak merata. Atas merah banget, bawah gradasi bitam efek dari bleaching kebanyakan di atas.
“Cantik, kok!” Aku yakin kalimat pegawai salon sekedar menghibur.
Padahal aku berasa mirip titisan setan ‘naudzubillah’. Besoknya, saat aku terpaksa membangunkan saudaraku buat shalat subuh, aku mempersiapkan mental buat dicela.
Di luar kebiasaan, mata yang terbuka, sedikit mendadak terbelalak. Dilanjutkan teriakan, “Astagfirullahc...!”
“Udah! Nggak usah komentar!” aku jutek. Kakakku ngakak.
“Jelek banget ya?” Yeee, justru aku yang penasaran sama penilaian dia.
Masih dengan tawa, santai dia bilang, “Nggak kok, Keren...!”
Dan, baru aku mau tersenyum sumringah, dia melanjutkan, “Kayak ayam jago!”
Senyumku hilang, mataku berkaca, Kapok! Teringat hadis Rasul kita, “Jika sesuatu diserahkan bukan pada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya!”
TAMAT

0 komentar:

Posting Komentar